Kamis, 16 Januari 2014

purana



PURANA
MATSYA PURANA









OLEH KELOMPOK :

1.     KADEK HANDARA
2.     KOMANG SUDIASA
















FAKULTAS DHARMA ACARYA
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA
INSTITUT HINDU DHARMA NEGERI DENPASAR
2012

I.       Pendahuluan
            Purana menduduki posisi yang penting dan strategis dalam tata urutan Veda dan susastra Hindu. Veda adalah sabda atau wahyu Tuhan Yang Maha Esa merupakan sumber pertama ajaran agama Hindu. Veda tidak hanya termasuk kitab-kitab Catur Veda Samhita seperti Reg.Veda, Yajur Veda, Sama Veda, dan Atharwa Veda. Di samping kitab-kitab tersebut, yang termasuk kelompok wahyu Tuhan Yang Maha Esa atau Devine Origin adalah juga kitab-kitab brahmana, Aranyaka dan Upanisad yang tidak seluruhnya lengkap terwarisi umat hindu.
            Kitab-kitab itihasa dan purana dapat di golongkan sebagai gudang pengetahuan agama yang sangat besar. Kitab-kitab tersebut di susun oleh para Rsi (Human origin) yang di maksudkan untuk menjabarkan ajaran suci Veda yang demikian luas, penuh kandungan spiritual, filosofis, moralitas, edukatif dan lain-lain. Dengan memahami Itihasa dan Purana, seperti di amanatkan dalam Vayu Purana, juga Sarasamuccaya (39) yang menyatakan:
Itihasa puranabhayam vedam samupabrmhayet,
Bibhetyalpasrutad vedo mamayam praharisyati.
                                                            Vayu Purana 1.201
“Hendaknya Veda di jelaskan melalui sejarah (Itihasa) Veda dan sejarah Deva-Deva dan raja-raja (Purana). Veda merasa takut kalau seorang badoh membacanya. Veda berpikir bahwa dia (orang yang bodoh) akan memukul-ku”.
            Secara Etimologi, istilah Purana di jumpai dalam kitab Vayu Purana (1.203) yakni berasal dari kata “Pura” (Pada masa purba, terdahulu) dan dari akar kata “an” (artinya bernafas atau hidup), Oleh karena itu kata Purana berarti “ Mereka yang hidup dari jaman purba (Yasmatpura hyanatidam puranam tena tatsmrtam), Kitab brahmanda Purana (1.1.173) menyatakan “di sebut purana karena keberadaannya di jaman yang sangat purba

Menurut P.V. Kane, kata “Purana” dalam kitab suci AtharwaVeda di atas menunjukkan bentuk singular, sedang di dalam kitab Satapatha Brahmana (XI.5.6.8), Kata Purana dalam bentuk majemuk, dalam satu kesatuan dengan kata Itihasa, sehingga bunyinya “Itihasapuranam” dan di jelaskan bahwa pada hari ke-9 pariplava, seorang pandita “hotr” menyatakan sebagai berikut “Purana adalah Veda” demikian adanya, Demikian di sebutkan berilah dia membaca cerita-cerita beberapa kitab Purana (XIII.4.13/1977: V.II.816). Pendapat yang sama juga di kemukakan oleh J.L. Shastri dengan mengutip Skanda (1.23.30) Matsya Purana (53.4) dan Mahabyasa (Anika I) karya Maharsi Patanjali, sperti termuat dalam kata pengantar karya terjemahan gabungan beberapa sarjana dalam buku Garuda Purana (Vol.12, Part I, 1990: XVI).
            Sebagai satu jenis susastra hindu, Purana telah ada sejak jaman Veda dan di sebutkan bersamaan dengan kitab-kitabPurana, Itihasa dan Narasamsigatha di dalam kitab suci

AtharwaVeda (XI.7.24 dan XV.6..11) dan di dalam kitab Gopatha (1.2.10) dan Satapatha brahmana (14.6.10.6), juga Taittriya Aranyaka(2.10) dan disebut sebagai veda yang ke lima di dalam chandogya Upanisad.
Istilah Purana sebagai suatu karya sastra keagamaan yang di dalamnya di kandung cerita-cerita kuno dapat pula kita jumpai di dalam beberapa susastra Veda, di antaranya dalam kitab-kitab Itihasa, seperti dalam Ramayana karya MahaRsi Valmiki) dan Mahabrata ( Karya MahaRsi Vyasa).
           




RINGKASAN UMUM
MATSYA PURANA
            Mastya purana adalah salah satu dari kitab-kitab purana kuno, atau setidak-tidaknya salah satu dari karya-karya yang telah mengawetkan kebanyakan naskah kuno itu melalui pertimbangan yang jujur terhadap definisi sebuah purana. Bermula dengan ceritra banjir besar atau banjir bandang, dari banjir itu keluarlah Sang Hyang Visnu dengan wujud sebagai seekor Ikan besar (matsya) yang bertujuan untuk menyelematkan Manu sendiri. Sedangkan kapal tempat manu berlayar terus ditarik oleh ikan itu. Percakapan antara manu dan Sang Hyang Visnu dalam wujudnya sebagai seekor ikan merupakan bahan penyusunan kitab Purana ini. Uraian tentang penciptaan dijelaskan secara rinci, disusul dengan genealogi (silsilah asal-usul para raja dan rsi) yang di dalamnya disisipkan suatu bagian tentang kakek moyang (para leluhur) dan cara memuja mereka (bab14-22). Tak ada satupun bagian-baguan geografis,astronomis, dan kronologis yang biasa dan merupakansebuah karakter dari kitab-kitab purana itu tidak disebutkan, dan menurut V.A S mith data-data para raja yang tercantum dalam Purana ini khususnya, dapat bisa dipercaya terutama tentang dinasti Andhra. Kitab purana dalam banyak hal mempunyai banyak persamaan dengan kitab Mahabrata dan Harivamsa, seperti cerita-cerita tentang raja Yayati (bab24-43), Savitri (bab 208-214), inkarnasi Sang Hyang Visnu (bab 161-179, 244-248) ; dan seringkali ada kecocokan yang sangat harfiah, akan tetapi terdapat amat banyak taambahan dan sisipan yang ditambahkan belakangan, misalnya kita temukan satu bagian yang luar biasa tentang cara-cara merayakan perayaan dan aktivitas ritual berupa Vrata (puasa) yang diuaraikan bab 54-102, pengagungan tempat-tempat suci Allahabad ( Prayagamahatnya, bab 103-1120, Benares (Varansi dan Avimuktamahatmya0, pada bab 180-185, dan keutamaan sungai Narmada (bab 186-194) ; lalu bagian berikutnya mengenai tugas dan kewajiban seorang raja (bab215-227), mengenai tanda-tanda dilangit (omen) dan isyarat-isyarat tertentu seperti gempa bumi 9228-238), upacara-upacara pada pembangunan pura dan taman-taman (bab258-270), enam belas macam sumbangan yang dirakhmati (dana punya) pada bab 274-289, dst. Sepanjang isinya Matsya Purana menunjukkan karakter Sivaistik, dengan banyak alasan seperti dapat digolongkan sebagai Visnuistik, perayaan-perayaan keagamaan dari sampradaya Saivistik, dan kedua mitos Sang Hyang Visnu dan Sang Hyang Siva dikisahkan berdampingan. Dalam bab 13 Devi (Gauri sakti Sang Hyang Siva) menyebutkan satu persatu kepada Daksa seribu delapan nama dengan nama-nama Gauri diagungkan, adalah jelas bahwa kedua sekta baik Siva maupun Vaisnava menggunakan karya itu sebagai sebuah buku suci.
POKOK-POKOK CERITA DARI MATSYA PURANA
PENCIPTAAN
Pada awalnya, tak ada kehidupan di dunia ini. Yang ada hanya kegelapan dan ensensi Ilahi (brahman). Tak mungkin untuk melukiskan brahman. Tak ada yang dapat diuraikan . ketika waktu untuk mencipta mulai, Brahman menghilangkan kegelapan tersebut dan kemudian membagi dirinya menjadi tiga. Ketiga bagian ini kemudian dikenal dengan Brahma , Visnu Dan Siva. Obyek pertama yang diciptakan adalah air dan visnu tidur diatas air tersebut. Karena nara berarti air dan ayana berarti tempat istirahat, visnu kemudian dikenal dengan nama Narayana.
Dari dalam air tersebut kemudian muncul telur (anda) keemasan (hiranya). Telur tersebut memencarkan sinra ribuan matahari. Dalam telur, Brahma menciptakan dirinya sendiri. Karena Brahma menciptakan (bhuva) diirinya sendiri (svayam), Brahma juga disebut dengan nama Svayambhuva. Garbha berarti kandungan, dan karena Brahma berada dalama telur emas tersebut, ia juga dikenal sebagai Hiranyagrabha.
Brahma berada dalam telur tersbut selama seribu tahun. Kemudian kulit telur tersebut pecah, dan mengembang luas. Sorga (svarga) terbentuk dari separoh bagian kulit telur tersebut dan bumi terbuat dari pecahan kulit telur yang satunya lagi. Semua unsur tanah, samudra, sungai dan gunung masih berada dalam telur berwujud embrio. Brahma kemudian mewujudkannya. Matahari juga diciptakan, karena matahari diciptakan pertama kali, matahri dikenal sebagai Aditya. (nama Aditya lebih umum dijelaskan sebagai keeturunan Aditi, semua para dewa adalah keturunan Aditi. Matsya Purana juga akan menjelaskan hal ini). Kata mrta berarti mati. Karena matahari lahir ketika telur pecah, matahari juga disebut sebagai Martanda. Brahma kemudian melakukan meditasi. Saat ia melakukan meditasi tersebut iveda,purana dan sastra (naskah suci lainnya muncul dari mulutnya. Brahma melahirkan sepuluh putra yang tercipta dari kekuatan mentalnya, yang semuanya merupakan para rsi. Putra-putra tersebut adalah: Marici, Atri, Angira, Pulastya, Pulaha, Kratu, Praceta, Vasistha, Bhrgu dan Narada. Yag lainnya yaitu, Daksa lahir dari jari kaki kanannya dan dewa Dharma lahir dari dadanya.
Untuk penciptaan selanjutnya harus ada Ibu dan Ayah, Brahma menciptakan dua mahluk hidup Svayambhuva Manu (laki-laki) dan Satarupa (perempuan) dan terjadilah penciptaan manusia. Satarupa juga di anggap sebagai Savitri, Gayatri, Saraswati atau Brahmani. Karena ia lahir dari tubuh Brahma, Satarupa seperti putrid dari Brahma. Vasistha dan para rsi lainnya yang juga merupakan putra Brahma menganggap ia sebagai kakak. Akan tetapi Satarupa sangat cantik sehingga Brahma jatuh cinta dan ingin menikah dengannya. Satarupa memutari Brahma dan menunjukkan rasa hormatnya kepadanya. Ketika Satarupa berdiri di hadapannya, Brahman dapat memandangnya dengan kepalanya langsung berhadapn dengan Satarupa. Akan tetapi Satarupa berdiri di belakangnya, Brahma juga dapat melihatnya ( Brahma tidak ingin memutar kepalanya). Kepala dengan muka yang lain muncul di belakang kepala Brahma yang pertama sehingga ia dapat melihat Satarupa. Dalam kondisi yang sama kepala Brahma muncul di atasnya. Hal ini di sebabkan karena Brahma memiliki lima kepala dan lima wajah. Brahma kemudian menikah dengan Satarupa dan mereka hidup bahagia sebagai suami istri selama seratus tahun. Putra mereka bernama Svayambhuva Manu. Untuk meneruskan penciptaan, Brahma menciptakan seorang rsi yang bernama Sanatkumara dan Siva ( Dalam purana lainnya menyebutkan bahwa untuk menambah jumlah para rsi yang telah di ciptakan sebelumnya, Brahma kemudian mencipta empat putra lagi dari kekuatan pikirannya. Keempat putra tersebut bernama Sananda, Sanaka, Sanatana, Sanatkumara, dan mereka menjadi rsi). Brahma kemudian menyurus Siva untuk mencipta dan Siva menuruti perintah tersebutdan mulai mencipta, akan tetapi mahluk hidup yang di ciptakan Siva memiliki wujud yang sama dengan dirinya. Mereka semua tidak sempurna. Dengan mengetahui hal tersebut kemudian Brahma berkata Janganlah engkau mencipta lagi, aku saja yang mencipta. Kemudian Svayambhuva Manu melaksanakan tapasya yang sangat berat dan mendapatkan sseorang istri yang bernama Ananti. Svayambhuva Manu dan Ananti memiliki dua putra yang bernama Priyavrata dan Uttnapada. Keturunan Uttnapada adalah Pracinavarhi. Pracinavarhi menikah dengan Savarna, putrid samudra dan mereka memiliki aepuluh putra. Putra-putra ini di kenal sebagai Praceta. Kesepuluh pracetatersebut menikah dengan Marisa. Mereka semua memiliki istri yang sama. Daksa adalah putra dari Praceta dan Marisa.
KETURUNAN DAKSA
Daksa menikah dengan pancajani. Daksa dan Pancajani memiliki seribu putra yang di kenal sebagai Haryaksa. Daksa menyuruh anak-anaknya untuk mencipta mahluk hidup. Akan tetapi rsi Narada datang dan berkata kepada para Haryaksa “kalian tidak dapat hanya mencipta mahluk hidup saja jika kalian tidak mengetahui dimana mereka akan tinggal. Pernahkah engkau meneliti alam semesta bahwa ciptaanmu akan hidup di sana kenapa kalian tidak mulai melakukan penelitian tersebut?.” Para Haryaksa melakukan hal ini dan nama mereka tak pernah terdengar lagi. Mereka tak pernah kembali. Daksa dan Pancajani memiliki seribu anak lagi. Mereka di namai Savala, dan Narada menyruruh mereka untuk meneliti alam semesta dan mereka juga lenyap tanpa bekas. Daksa dan Pancajani kemudian melahirkan enam puluh anak perempuan lagi. Sepuluh dari putrid Daksa tersebut menikah dengan dewa dharma, dua puluh tujuh putrid menikah dengan rsi Kesyapa dan putrid lainnya menikah dengan rsi-rsi lain. Ketiga belas putrid Daksa yang menikah dengan Kasyapa adalah Aditi, Diti, Danu, Arista, Surasa, Surabhi, Vinata, Tamra, Krodhavasa, Ira, Kadru, Visva dan Muni. Putra Aditi di kenal dengan Aditya, adadua belas Aditya yaitu, Indra, Dhata, Bhaga, Tvasta, Mitra, Varuna, Yama, Vivasvana, Savita, Pusa, Amsumana dan visnu. Para Aditya ini adalah Dewa (Yama pada umumnya di anggap sebagai putra dari dewa mataharidan Samjna).
Putra dari diti adalah para raksasa(daitya). Diti memiliki dua putra yaitu Hiranyakasipu dan Hiranyaksa. Keturunan kedua raksasa tersebut juga di sebut dengan daitya. Putra dari Hiranyaksa adalahUluka, Shakuni, Bhutasantapana, Mahanabha. Sedangkan dalam cerita lainnya menyebutkan bahwa Hiranyaksa tidak memiliki anak dan ia mengadopsi Andhaka sebagai putranya. Putra dari Hiranyakasipu adalah Prahlada, Anuhlada, Samhlada dan Hlada. Putradari Prahlada adalah Virocana. Putra dari Virocana adalah Vali, dan putra Vali adalah Vanasura. Danu memiliki seratus putra. K eturunan putra-putra ini di kenal sebagai golongan Danava( raksasa). Putra yang paling utama dari keseratus putra tersebut adalah Vipracitti. Maya yang merupakan arsitek para raksasa adalah keturunan Vipracitti. Tamra memiliki enam putrid. Keenam putrid tersebut adalah ibu dari golongan para burung, kambing, kuda, domba, unta dan keledai. Vinata memiliki dua orang putra yaitu Aruna dan Garuda. Putra dari Aruna adalah Sampati dan Jatayu (engkau lebih mungkin mengenal nama-nama ini dari cerita Ramayana). Surasa dan Kadru melahirkan ular (naga atau Sarpa). Krodhavasa adalah ibu dari para raksasa, Surabhi adalah ibu dari kerbau dan sapi, Muni adalah ibu dari para apsara (penari surga) Arista adalah ibu dari para Gandharwa (penyayi surga) Ira adalah ibu dari pepohonan dan perdu dan Visva adalah ibu dari golongan yaksa (setengah dewa).
Meskipun Raksasa dan para dewa adalah sepupu, mereka tidak sailing menyukai dan sering bertengkar. Banyak Daitya yang di bunuh oleh dewa Visnu dan para dewa lainnya. Diti merasa sedih melihat penderitaan itu ia memutuskan untuk bermeditasiagar mendapatkan seorang anak yang sangat sakti yang nantinya dapat membunuh dewa Indra, raja para dewa. Ada sebuah tirtha ( tempat perziarahan suci) yang bernama Syamantapancaka di pinggir sengai srasvati. Diti pergi kesana dan memuja rsi Kasyapa. Ia mempertahankan hidupnya dengan memakan akar-akaran dan buah-buahan dan melakukan meditasi selama seratus tahun. Doa-doanya menyenangkan hati kasyapa “ mintalah suatu anugrah” kata rsi tersebut, berilah aku seorang anak atu putra yang dapat membunuh dewa indra kata Diti, “keinginanmu akan terpenuhi” kata kasyapa” akan tetapi engkau harus melaksanakan beberapa persyaratan. Engkau harus tiggal di pertapaan ini selama seratus tahun lagi. Selama seratus tahun tersebut, engkau akan melahirkan seorang bayi. Akan tetapi ada beberapa hal yang harus engkau laksanakan. Engkau tidak boleh makan pada waktu malam, jika tidak, engkau harus tdurdi bawah pohon saat malam. Bentuk latihan apapun tidak boleh di lakukan. Jangan tidur dengan rambut tergerai atau tidak mandi sebelumnya. Jika engkau dapat melaksanakan hal ini, engkau akan mendapatkan anak seperti yang engkau inginkan.”
Kasyapa menghilang dan Diti melaksanakan ritual yang di jelaskan oleh rsi itu, akan tetapi Indra mengetahui hal ini dan ia tidak akan memberikan kelahiran putra tersebutb karena anak tersebut akan menghancurkannya. Indra kemudian berkunjung ke pertapaan Diti seolah-olah ia akan melayani bibinya. Ia membawakan kayu api, buah-buahan dan juga melayaninya. Sebenarnya, Indra menunggu kesempatan saat Diti gagal melaksakan ritual itu. Sembilan puluh Sembilan tahundan tiga ratus enam puluh dua hari beralalu. Masa seratus tahun hanya tinggal tiga hari lagi.Pada hari itu Diti sangat lelah, karena waktu yang di tetapkan semakin dekat, ia menjadi agak malas. Ia tidur juga tanpa meenyanggul rambutnya. Tindakan ini telah melanggarpersyaratan tersebut. Indra menggunakan kesempatan tersebut, karena Diti telah melanggar janji, ia tak dapat melawan lagi. Indra memasuki perut Diti dalam sekejap. Indra memiliki senjata sangat sakti yang di sebut dengan vajra, dengan vajra tersebut, Indra memotong bayi yang ada dalam perut Diti menjadi tujuh bagian. Ketujuh bagian itu mulai menangis.” Ma ruda’ kata indra “ jangan menangis” akan tetapi, bagian tubuh bayi tersebut terus menangis. Indra kemudian memotong ke tujuh bagian bayi tersebut menjadi beberapa bagian lagi sehingga seluruhnya berjumlah empat puluh Sembilan. Karena Diti gagal melaksanakan persyaratan tersebut, ke-empat puluh sembila bagian tubuh anak Diti tidak lagi memusuhi Indra. Ketika mereka telah lahir. Mereka di sebut dengan marut yang di ambil dari kata- kata Indra saat menenangkannya. Merka mendapatkan status sebagai dewa dan menjadi pengikut setia Indra.
Manvantara
            Setiap Mavantara merupakan suatu jaman yang diperintah oleh seorang Manu. Satu hari Brahma  disebut dengan nama Kalpa dan ada empat belas Mavantaradalam setiap kalpa. Pada akhir masing-masing kalpa, jagat raya mengalami kehancuran dan akan diciptakan kembali.
            Pada kalpa ini, enam mavantara telah lewat dan mavantara ke tujuan adalah yang sekarang sedang berjalan. Ada tujuh mavantara di masa depan sebelum jagatraya dan mahluk penghuninya dimusnahkan. Para Dewa, tujuh rsi (sapta rsi) dan orang yang menyandang gelar indra akan berubah dari satu mavantara ke mavantara  lain. Ke empat belas jaman dalam kalpa yang sekarang adalah sebagai berikut.
1.      Manu yang pertama adalah Svayamhuva Manu. Para dewanya disebut sebagai para yama.
2.      Manu  yang ke dua adalah Svarocisa. Dewanya adalah para tusita dan tujuh rsi tersebut adalah , Dattoli, Cyavana, Pravahana, Siva, Sita, Sasmita adalah para saptarsi-nya.
3.      Manu yang ke-empat adalah Auttama. Dewanya adalah para bhavana dan Kaukurundhi, Dalbhya, Sankha, Pravahana, Siva, Sita, Sasmita adalah para saptarsi-nya.
4.      Manu yang ke-empat adalah Tamasa. Tujuh rsi yang mengikutinya adalah, Kavi, Prthu, Agni, Akapi, Kapi, Jalpa, dan Dhimana dan dewanya disebut para sadhya.
5.      Mavantara yang ke-lima diperintah oleh seorang Manu yang bernama Raivata. Para dewanya adalah para abhutaraja dan tujuh rsi utama yaitu, Devavahu, Suvahu, Parjanya, Somapa, Muni, Hiranyaroma dan Saptasva.
6.      Manu yang ke-enam adalah Caksusa. Dewanya adalah para Lekha dan tujuh rsi agungnya adalah, Bhrgu, Sudhama, Viraja, Sahisnu, Nada, Vivasvana dan Atinama.
7.      Manvantara Iyang ke-tujuh sedang berjalan dan diperintah oleh seorang Manu yang bernama Vaivasvata. Saptarsi terdiri dari Atri, Vasistha, Kasyapa, Gautama, Bharadvaja, Visvamitra dan Jamadagni.  Dewanya adalah sadya dan visvadeva, marut, vasu, dua asvini dan aditya.
8.      Manu yang ke-delapan adalah Savarni dan tujuh  rsi yang berkuasa yaitu, Asvatthama, Saradvana, Kausika, Galava, Satanada, Kasyapa, dan Rama.
9.      Manu yang ke-sembilan adalah Raucya.
10.  Manu yang ke-sepuluh adalah Bhautya.
11.  Manu yang ke-sebelas akan diberi nama Merusavarni.
12.  Manu yang ke-dua belas adalah Rta
13.  Manu  yang ke tigabelas adalah Rtadhama
14.  Manu yang ke-empat belas dan yang terakhir akan dinamai Visvakasena.
(purana ini tidak lengkap menyebutkan nama rsi dan dewa. Dan nama Indra tidak dimuat dalam satu manvantara pun. Nama-nama ini juga diceritakan dalam purana yang lain, tetapi dengan nama yang berbeda-beda. Dalam hal tertentu, misalnya nama manvantara dimasa depan juga berbeda.)
Prthu
Ada seorang raja yang bernama Anga yang merupakan keturunan Svayambhuva Manu. Anga  menikah dengan Sunitha, putri dari Mrtyu dan mereka mempunyai seorang putra bernama Vena. Mrtyu adalah orang jahat. Sejak kecil, Vena tinggal dengan kakeknya yang sering berbuat jahat tersebut.
Setelah Vena menjadi raja setelah Anga, ia mulai memerangi bumi. Ia menghentikan semua yajna dan orang-orang yang memuja Tuhan. Ia menyuruh orang-orang tersebut untuk menuja dirinya saja. Para rsi dengan berbagai macam cara berusaha untuk menganjurkan kepada Vena agar kembali ke jalan yang benar, akan tetapi Vena tidak mendengarkan.

Para rsi tersebut kemudian membunuh Vena. (matsya  purana hanya menceritakan bahwa Vena meninggal karena dikutuk oleh para rsi. Purana  yang lain mengatakan bahwa para rsi  sebenarnya membunuh mereka dengan jermi setelah mengucapkan mantra).
Vena  tidak memiliki putra dan kerajaan harus diperintah oleh seorang raja. Oleh karena itu, saat Vena meninggal, para rsi meremas-remas jasad tersebut sehingga seorang anak dapat lahir. Mahluk pertama yang lahir dari peremasan tersebut adalah seseorang yang sangat kerdil dan hitam. Semua kejahatan yang dilakukan Vena menurun kepada anak tersebut sehingga tak ada kejahatan yang tertinggal pada badan yang telah meninggal itu. (purana yang lain mengatakan bahwa putra ini kemudian dikenal sebagai nisada  dan nama ini juga dipergunakan oleh keturunannya. Nisada menjadi seorang pemburu dan nelayan.)
Ketika upacara peremasan mayat tersbut diteruskan, seorang anak yang sangat tampan keluar dari tangan kanan Vena. Ia lahir dengan sempurna dan membawa busur, anak panah dan tongkat. Seluruh tubuhnya mengeluarkan cahaya. Kata Prthu berarti besar (agung). Anak tersbut diberi nama Prthu karena ia dilahirkan dengan usaha yang sangat besar.
(beberapa kitab purana lain menceritakan bahwa telapak tangan Vena sangat montok dan kata Prthu juga berarti montok. Karena anak ini lahir dari telapak tangan yang montok tersbut, maka Ia dinamai dengan Prthu.)
Akan tetapi rakyat Prthu belum memiliki persediaan makanan yang cukup untuk bertahan hidup. Mereka meminta raja untuk melakukan sesuatu. Prthu memutuskan kalau bumi tidak menyediakan berbagai macam makanan, ia akan membunuh bumi. Bumi kemudian merubah wujudnya sebagai sapi dan melarikan diri.
           
Kemanapun bumi melarikan diri, raja tersebut dapat mengejarnya. Bumi pada menyadari bahwa ia tidak dapat melarikan diri lagi. Ia kemudian berkata kepada Prthu, “ janganlah membunuh hamba karena penduduk tuan tidak akan dapat hidup. Bagaimana mungkin mereka dapat hidup jika tuan membunuh hamba?hamba yang telah membuat susu. Makanan yang tuan minta akan hamba sediakan.”
            Prthu kemudian memerah bumi. Karena kejadian inilah bumi kemudian disebut dengan nama prthivi. Prthu kemudian menstabilkan bumi dengan busur panahnya sehingga rakyatnya dapat tinggal pada dataran yang tercipta.
            Bumi menjadi subur dibawah pemerintahan Prthu. Segala bentuk kemiskinan, penyakit dan perbuatan dosa tidak ditemukan. Semua orang berada dijalan yang benar.
Garis Keturunan Matahari
            Para Rsi meminta kepada  Lomaharsana, “beritahukanlah kepada kami sejarah tentang garis keturunan matahari”.  Lomaharsana pun mulai bercerita. Aditi  dan rsi kasyapa telah melahirkan dewa matahari vivasvana atau  surya  sebagai putra. Surya memiliki tiga orang istri yaitu Samjna, Rajna,  dan Prabha. Rajni memiliki seorang putra yang bernama Revata  dan Prabha  memiliki seorang putra bernama Prabhata (pagi). Surya  dan Samjna memiliki dua orang putra dan seorang putri. Putra yang paling tua adalah Vaivasvata manu.  Dan kedua putra lainnya adalah kembar yaitu  Yama dan Yamuna.
            Pancaran sinar matahari terlalu kuat bagi Samjna  dan diberi nama chaya. ia kemudian menciptakan seorang wanita dari tubuhnya. Wanita tersebut perisi dengan Samjna dan diberi nama chaya (bayangan). Sangat sulit untuk membedakan keduanya. “ tinggalah disini dan berbuatlah seolah-olah engkau adalah aku, ”kata Samjna. ”rawatlah suami dan anak-anakku tak seorang pun akan tahu yang sebenarnya kecuali kau memberitahunya. Aku sendiri akan pergi dari sini.
Surya tidak menyadari bahwa Samjna  telah pergi. Ia menganggap bahwa Chaya sebagai istrinya dan menganggap dan dengan chaya  memiliki dua orang putra dan dua orang putri. Putranya bernama savarni manu  dan  sani (saturnus) dan anak perempuannya adalah  tapati  dan visti. (nama anak perempuan yang bernama visti jarang diceritakan dalam purana yang lainnya).  
Chaya  sangat sayang terhadap anak-anaknya dan melupakan anak-anak Samjna.  Hal ini tidak berpengaruh terhadap Vaivasvata Manu. Ia adalah anak tertua dan lebih mengerti keadaan tersebut. Akan tetapi yama tidak suka dengan kelakuan chaya. dengan sifatnya yang cepat marah, ia mengangkat kakinya dan menendang chaya. chaya mengutuk yama. “aku mengutukmu agar kakimu diganyang oleh cacing ,’ia berkata,”cacing-cacing itu akan menyebabkan bernanah dan berdarah.”
Kutukan itu mengangetkan yama dan ia segera berlari ke ayahnya. “ ibu telah mentukku, “ia memberitahu surya. ”aku hanyalah seorang anak kecil. Meskipun aku telah berbuat asalaah, pantaskah seorang ibu mengutuk anaknya?. Aku sangat yakin bahwa ia bukan ibuku.”
Ketika surya  mengatakan hal ini kepada chaya.  ia kemudian mengatakan yang sebenarnya dan surya baru mengetahui bahwa samjna  telah pergi. Ayah samjna  adalah visvakarma.  Ia adalah arsitek para dewa. Surya  kemudian pergi kekediaman mertuanya untuk menanyakan apakah ia tahu tentang keberadaan samjna.
Aku tahu” jawab visvakarma. “ketika samjna meninggalkan rumah, ia datang kepadaku dalam wujud seekor kuda betina, tetapi aku menolak keinginannya untuk tinggal dirumah ini karena telah meninggalkan rumah suaminya tanpa minta ijin terlebih dahulu. Saat ini ia tinggal didaerah padang pasir. Samjna melakukan hal ini karena ia tidak tahan dengan energi dan pancaran sinarmu. Jika engkau menginjinkan akau akan menghilangkan beberapa energimu sehingga orang lain dapat melihatmu.”
Menurut purana ini, samjna tidak memberi tahu visvakarma bahwa surya tidak mengetahui perpisahan ini dan tinggal dengan ayahnya beberapa waktu dan tidak dalam wujud kuda betina. Akan tetapi, pada akhirnya visvakarma curiga kenapa anaknya tidak mau kembali kepada suaminya. Untuk menghindari kecurigaan ayahnya, samjna  merubah wujudnya menjadi seekor kuda betina dan tinggal disebuah kerajaan bernama uttarakuru, bukannya di daerah padang pasir (maru) seperti yang diceritakan didalam matsya purana. Visvakarama mengetahui hal ini dengan daya mentalnya.
Visvakarma kemudian mengurangi energi matahari. Dari energi-energi tersebut tercipta beberapa senjata para dewa seperti cakra visnu, trisula siva  dan vajra indra. Pengurang cahay matahari ini membuat matahri lebih lembut. Tubuh surya yang tidak mengalami modifikasi adalah kakinya. Tidak ada orang yang tahan melihat saat memujanya. Orang yang tidak mematuhi larangan tersebut adalah pendosa dan ia akan menderita penyakit kusta.
Surya kemudian mencari Samjna dan menemukannya dalam wujud seekor kuda betina. Ia kemudia merubah wujudnya menjadi kuda jantan dan hidup dengannya. Sebagai kuda mereka memiliki dua orang putra. Kedua putranya dikenal sebagai asvini, karena asva berarti kuda,. Mereka menjadi tabib para deva dan juga dikenal sebagai nasatya  dan dasra. Setelah asvini lahir, surya dan samjna kembali kewujud aslinya.
Apakah yang terajadi dengan savarni manu? Ia pergi melaksanakan tapasya digunung semeru. Ia akan dilahirkan kembali sebagai manu pada masa yang akan datang. Dan tapati kemudian menjadi sebuah sungai (tapati). (mahabrata menyatakan bahwa tapati menikah dengan raja samvarana dan melahirkan seorang putra yang bernama Kuru. dari keturunan Kuru selanjutnya dikenal dengan nama kaurawa).

Engkau mungkin masih ingat bahwa yama telah dikutuk agar kakinya membusuk dan terinfeksi oleh cacing. Untuk mengurangi kutukan tersebut, surya memberikan seekor burung kepada yama  untuk memakan cacing-cacing tersebut. Setelah itu yama pergi kesebuah titrha yang bernama Gokarna dan mulai memuja siva. Ia melakukan hal itu selama ribuan tahun. Dan memutuskan untuk bertemu dengan dewa  siva . siva menganugrahi  yama berkah sebagai dewa kematian. Ia berhak menjatuhkan hukuman kepada orang-orang yang berdosa (papa). Dan ia juga berhak memberikan punya kepada orang-orang yang selalu berbuat kebajikan.
Vaivasvata Manu memerintah sebagai Manu.  Ia memiliki sepuluh putra. Putra yang tertua bernama Ila. Putra yang lainnya bernama Iksvaku, Kusanabha, Arista, Dhrsta, Narisyanta, Karusa, Saryati, Prsadhra dan Nabhaga. Garis keturunan matahari berkaitan denga Iksvaku. Dalam garis keturunan ini lahirlah seorang raja bernama Bhagiratha  yang telah mengalirkan sungai Ganga yang suci dari surga. Selanjutkan keturunan dari dinasti matahari adalah Dasaratha dan putra Dasatratha adalah Rama. Engkau dapat mengetahui Rama dari cerita Ramayana.
Vajranga
            Tidak diragukan lagi bahwa engkau masih ingat tentang Marut. Indra telah membunuh putra Diti yaitu daitya. Diti kemudian menginginkan seorang anak yang nantinya dapat membunuh Indra. Akan tetapi,karena ia tak dapat melaksanakan syarat-syarat ritual,anak yang dilahirkan menjadi teman Indra dan memuja Indra.
            Indra tetap melanjutkan penyerangannya dan membunuh para raksasa. Diti kemudian memuja suaminya Kasyapa agar memungkinkannya memiliki seorang anak yang dapat mengalahkan Indra.
            “Keinginanmu akan terpenuhi,”kata Kasyapa.”akan tetapi, engkau harus melaksanakan tapasya selama sepuluh ribu tahun. Senjata Indra adalah vajra dan anak yang akan engkau lahirkan akan memiliki tubuh(anga) seperti vajra. Ia kemudian akan diberi nama Vajranga. Dan Vajra Indra tidak akan dapat membunuhnya”.
            Diti kemudian melakukan meditasi selama sepluh ribu tahun dan pada akhirnya,ia melahirkan seorang putra yang sangat sakti. Vajranga sangat sakti. Ketika Vajranga sudah dewasa ,Diti memberitahu putranya. “Indra telah membunuh putra-putraku. Aku sangat ingin membalas dendam. Pergi dan bunuhlah Indra.”
            Vajranga pergi ke surga. Ia mengalahkan Indra dengan mudah dan mengikatnya. Ia kemudian membawa Indra kehadapan ibunya dan siap untuk membunuh raja para dewa tersebut.
            Kematian Indra akan membawa malapetaka yang sangat besar. Brahma dan Kasyapa segera pergi dan menemuinya.”Vajranga,” kata mereka,”janganlah membunuh Indra. Biarkan Ia pergi.  Jika seseorang telah mengalahkannya,hal itu sama dengan kematian baginya. Indra telah dikalahkan olehmu. Ia akan merasa sakit hati dan ia merasa lebih baik mati. Engkau tidak perlu membunuhnya secara fisik. Disamping itu kenyataan bahwa engkau membebaskan Indra ataspermintaan kami akan diketahui oleh semua orang. Meskipun ia masih hidup , semua orang akan menganggapnya telah mati. Dengarkanlah permintaan kami dan bebaskanlah Indra.”
            “Aku tak akan menolak permintaan kalian sma sekali.”jawab Vajranga.”Aku tidak bermaksud membunuh Indra,aku hanya menuruti perintah ibuku. Bagaimana mungkin aku menolak keinginan kalian? Salah satu dari kalian adalah pencipta alam semesta dan yang satunya lagi adalah ayahku. Aku akan membebaskan Indra. Tapi berikanlah aku sebuah anugrah. Anugrah yang aku inginkan adalah agar aku dapat melaksanakan tapasya yang berat.”
            Anugrah ini Diberikan kepada Vajranga. Disamping itu, Brahma menciptakan seorang wanita yang sangat cantik dan dinikahkan dengan Vajranga.
            Vajranga pergi kehutan untuk bertapa selama seribu tahun . Ia berdiri dengan kedua tangannya kearah langit. Dengan sikap tubuh seperti ini,ia melakukan meditasi. Setelah tapasya tersebut berakhir,ia menginginkan melaksanakan tapa dibawah air selama seribu tahun lagi. Ketika Vajranga masuk kedalam air,istrinya Varangi dengan sabar menunggu suaminya kembali. Ia juga melaksanakan meditasi.
            Akan tetapi Indra tidak akan tinggal diam. Ia merubah wujudnya menjadi monyet dan mencabuti semua pohon yang ada dipertapaan Varangi. Ia kemudian merubah wujunya menjadi seekor domba dan memakan semua rumput yang ada disana. Sebagai Ular,ia berusaha untuk menggigit Varangi. Terakhir, Indra merubah wujudnya menjadi awan dan mengguyur pertapaan tersebut dengan hujan yang sangat lebat. Karena Varangi sedang bertapa ,ia tidak sempat melindungi dirinya. Ia harus tahan menghadapi hal tersebut.
            Ketika masa seribu tahun tersebut berakhir, Vajranga kembali dari pertapaan. Ia sangat sedih melihat kemalangan yang dialami oleh istrinya dan ia sangat membenci Indra.  Ia kembali melaksanakan meditasi  dan ia mengharapkan memperoleh seorang anak yang nantinya dapat membunuh Indra.
            Brahma muncul dihadapan Vajranga dan memberikan anugrah tersebut.”Engkau akan mendapatkan seorang anak yang akan membawa bencana bagi para dewa.,”kata Brahma.”Ia akan disebut dengan nama Taraka.”
            Varangi mengandung bayi tersebut selam seribu tahun. Ketika Taraka lahir,bumi berguncang dan gelombang besar terjadi disamudra. Badai yang hebat pun terjadi. Binatang buas kegirangan dan para rsi merasa takut.
            Setelah besar, Taraka kemudian diangkat menjadi raja para raksasa.
Tapasya Taraka
            Keinginan Taraka yang paling besar adalah mengalahkan para dewa,akan tetapi ia menyadari bahwa sebelum melawan para dewa ia harus sakti terlebih dahulu. Kekuatan tersebut hanya dapat diperoleh melalui tapasya.
            Taraka pergi kegunung Paripatra dan memilih sebuah gua untuk bermeditasi. Selama beberapa hari, Taraka tidak makan apapun. Beberapa  hari kemudian,ia hanya minum air dan hari-hari selanjutnya,Ia hanya makan daun-daunan. Setiap hari,ia memotong dagingnya untuk dipersembahkan kepada api sebagai wujud ketaatannya.
            Tapa yang sangat sulit ini menyenangkan hati Brahma dan beliau pada akhirnya muncul dihadapan Taraka.”Sudah cukup,”kata Brahma.”Aku terkesan dengan kekuatanmu.Anugrah apakah yang bisa aku berikan kepadamu?”
            “Aku ingin bertarung dengan para dewa,”jawab Taraka.”Para dewa telah mengalahkan para raksasa dan aku ingin membalas dendam. Berikanlah aku anugrah agar aku sakti dan abadi.”
            “Keabadan tidak dapat dianugrahkan kepada mahluk hidup manapun,”kata Brahma.”Semua  mahluk hidup harus mati. Akan tetapi,jika engkau mau,aku akan memberimu anugrah agar engkau sulit dibunuh.”
            “Jika demikian, berikanlah aku anugrah agar aku hanya dapat dibunuh oleh anak yang berumur tujuh tahun,”pinta Taraka.
            Brahma dengan senang hati memberikan anugrah tersebut.
PERANG ANTARA PARA DEWA DAN PARA RAKSASA
            Dengan anugrah yang diberikan oleh Brahma, Taraka mulai memimpin para raksasa. Setelah beberapa tahun berlalu dan Taraka telah memiliki tentara yang besar,ia memutuskan untuk menyerang sorga.
            Tentara raksasa yang besar tersebut bangkit. Tentara tersebut menggunakan ribuan gajah,kuda,dan kereta. Selain Taraka,jendral utama tentara tersebut adalah Jambha,Kujambha,Mahisa,Kunjara,Megha,Kalanemi,Nimi,Mathana,Jambhaka,dan Sumbha. Mereka menggunakan berbagai macam senjata.
            Para dewa juga mempersiapkan diri menghadapi perang tersebut. Mereka menunjuk Yama sebagai pemimpin utama. Yama mengendarai kerbau. Indra mengendarai kendaraannya dan kusirnya bernama Matali. Dewa api,Agni mengendarai kambing,dan Varuna,dewa samudra mengendarai ular. Dewa-dewa lainnya yang terlibat dalam peperangan tersebut adalah Candra,Surya,dan Kubera,dewa kesuburan dan kemakmuran.
            Perang tersebut sangat mengerikan. Bunyi pekikan gajah yang seperti terompet,ringkikan kuda dan gendang yang dipukul membuat suasana perang tersebut benar-benar mengerikan. Disamping itu terdengar pula suara senjata yang beradu, desingan anak panah,kerata yang beradu dengan kereta,gajah dengan gajah,kuda dengan kuda,dan tentara dengan tentara. Langit dipenuhi dengan tombak,gada,kapak,pedang,trisula,tongkat dan anak panah. Mayat-mayat bergelimpangan dan banjir darahpun terjadi.
            Yama bertarung dengan seorang raksasa yang bernama Grasana dan Kubera bertarung dengan Jambha. Kujambha juga bertarung dengan Kubera. Kalanemi bertarung dengan Candra dan Surya. Dua Asvini mendapatkan pukulan tangan Kalanemi.
            Berita bahwa para dewa kalah didengar oleh dewa Visnu dan Visnu terjun dalam pertempuran tersebut. Para raksasa menyerang Visnu,akan tetapi mereka kalah. Salah satu gada dewa Visnu memukul Kalanemi. Cakra dewa Visnu memotong kepala Grasana. Jambha bermaksud memukul dewa Visnu dengan tongkat,akan tetapi Indra membunuh Jambha dengan senjata ilahi.
            Masalah yang paling berat adalah Taraka. Saat ia terjun kemedan pertempuran,para dewa tidak memiliki pilihan lain selain melarikan diri. Bagi mereka yang tidak melarikan diri akan terbunuh dan dipenjara.
            Para raksasa memenangkan  pertempuran tersebut.
Nasehat Brahma
            Para dewa yang dapat hidup dari peperangan memuja Brahma.
            “Apakah yang dapat aku lakukan pada kalian?”tanya Brahma. Kenapa kalian kelihatannya sangat sedih?”
            “Engkau adalah orang yang harus bertanggung jawab atas kesedihan kami,”kata para dewa.”Engkau telah memberikan Taraka sebuah anugrah yang membuatnya sangat sakti. Dengan menggunakan anugrah tersebut ,ia menguasai alam semesta dan mengalahkan kami. Apakah yang harus kami lakukan sekarang?”
            “Janganlah bersedih seperti ini,”kata Brahma.”Taraka tidak abadi. Ia akan dibunuh oleh anak yang berusia tujuh tahun. Akan tetapi,anak tersebut belum lahir. Ia adalah putra dewa Siva. Akan tetapi masalahnya adalah Siva belum menikah lagi. Sebelumnya ia telah menikah dengan Sati. Akan tetapi, Sati membunuh dirinya pada saat yajna. Sekarang ia telah dilahirkan kembali sebagai Parvati. Tugas kita adalah menikahkan kembali Parvati dengan Siva. Putra yang akan dilahirkan mereka akan membunuh Taraka.
            Sangat  diperlukan untuk membuat Siva jatuh cinta pada Parvati. Madana,dewa cinta dikirim oleh Indra ketempat kediaman Siva. Akan tetapi, karena ia mengganggu tapa dewa Siva,maka Siva membakar Mardana.
            Sementara itu, Parvati mulai melakukan tapasya agar Siva mau jadi suaminya. Ia bermeditasi selama seratus tahun dan hanya hidup dengan memakan daun-daunan. Pada akhir dari keseratus harinya,ia melakukan puasa. Tujuh rsi utama pergi dan memberitahukan kepada Siva tentang tapasya yang dilakukan oleh Parvati dan Siva setuju menikah dengan Parvati. Pernikahan tersebut berlangsung dengan sangat meriah. Semua gunung dan sungai menghadiri upacara tersebut. Demikian juga halnya dengan para rsi,para dewa,para gandharva,apsara,dan yaksa. Brahma sendiri bertugas sebagai pendeta dalam upacara pernikahan.
Kali Menjadi Gauri
            Pada suatu hari,Siva menyapa Parvati dengan kata “kali.” Kata kali tersebut berarti gelap dan Parvati berpikir bahwa yang dimaksud oleh suaminya adalah kulitnya yang hitam. Ia tidak menyadari bahwa Siva hanya menggodanya.
            Karena pikiran tersebut, Parvati memutuskan untuk melaksanakan meditasi agar ia cantik. Ia menggunakan pakaian yang terbuat dari kulit kayu dan melaksanakan tapasya. Dimusim panas,ia bertapa diatas api dan dimusim dingin,ia bertapa diair. Kadang-kadang, Ia hanya makan akar dan buah-buahan. Kadang-kadang, Ia juuga berpuasa.
            Sebelum ia melaksanakan tapasya,ia telah memerintahkan Nandi agar menjaga pintu masuk dewa Siva dan tidak mengijinkan seorang wanitapun masuk kesana.
            Ada seorang raksasa yang bernama Adi. Raksasa ini sering melakukan tapasya dan berusaha untuk menyenangkan hati Brahma. Ketika Brahma berkenen untuk memberinya anugrah,ia memohon agar Brahma memberikannya keabadian. Brahma menolak memberikan anugrah ini. Brahma kemudian mengatakan bahwa ia akan memberikan Adi anugrah yaitu ia akan mati dalam perubahan wujudnya yang kedua kali.
            Adi datang kepertapaan Siva dan Parvati dan melihat Nandi menjaga pintu masuk rumah tersebut. Karena takut dengan Nandi,ia merubah wujudnya menjadi seekor ular dan masuk kedalam. Nandi tidak memperhatikan ular tersebut. Sebagai ular adalah perubahan wujud yang dilakukan Adi pertama kali.
            Di dalam rumah, Adi melihat dewa Siva dan ia berpikir untuk menipu Siva. Ia kemudian merubah wujudnya menjadi Parvati. Perubahan wujud ini adalah yang kedua kali. Dalam wujud sebagai Parvati, ia menghadap Siva dan menyapanya.
            Pada awalnya,Siva tidak menyadari bahwa orang tersebut bukanlah Parvati. Ia menyapa raksasa tersebut dan berkata,”sayang,aku sangat senang karena engkau mau kembali. Aku dapat melihat bahwa engkau tidak marah lagi kepadaku.”
            Akan tetapi,setelah beberapa saat, Siva menyadari bahwa orang ini bukan Parvati. Ia kemudian membunuh raksasa tersebut.
            Sementara itu,Parvati terus melaksanakan tapasya dan hal ini menyenangkan Brahma. Brahma memberikannya anugrah agar ia kelihatan cantik. Karena kata gauri berarti cantik,Parvati kemudian disebut dengan nama Gauri. Seorang dewi yang bernama kausiki keluar dari sel-sel Parvati. Disebut dengan nama Kausiki karena kosa berarti sel. Kulit parvati yang hitam memasuki tubuh kausiki.
            Brahma memerintahkan dewi Kausiki untuk pergi dan tinggal digunung Vindhya. Ia kemudian dikenal dengan nama Vindhyavasini.
            (Menurut Markandeya Purana, Kausiki keluar dari sel tubuh Parvati saat ia terlibat perkelahian dengan raksasa Sumbha dan Nisumbha).



Karttikeya dan Taraka
            Karttikeya atau skanda lahir beberapa hari kemudian Anak laki-laki tersebut disinari oleh pancaran sinar matahari dan memiliki enam(sada),wajah(anana). Ia kemudian dikenal dengan nama Sadanana.
            (Purana yang lainnya seperti Brahmavaivatra Purana menyatakan bahwa Skanda telah hilang sejak kecil dan telah dibawa pergi oleh kaum Krttika. Oleh karena hal tersebut,ia dipanggil dengan nama Karttikeya. Karttika adalah seorang dewi dan juga dikenal sebagai bintang(galaksi).
            Para dewa menganugrahi karttikeya dengan senjata yang sangat sakti dan menunjukkan sebagai pemimpin. Para dewa meminta Karttikeya untuk membubuh raksasa Taraka dan persiapan untuk perang pun dilakukan.
            Ketika Taraka melihat karttikeya, ia berkata,”apa yang engkau lakukan dimedan perang ini? Pergi dan bermain bola lah dengan yang lainnya.”
            “Medan perang bukanlah tempat untuk melakukan percakapan bodoh.”jawab karttikeya.”Tunjukkanlah kekuatanmu padaku.”
            Setelah mendengar kata-kata karttikeya,hanya Taraka memukulkan tongkatnyaa pada Karttikeya. Akan tetapi, Karttikeya dengan mudah dapat menangkis tongkat tersebut dengan sebuah vajra. Raksasa tersebut kemudian mengayunkan kapak kerahnya,akan tetapi,Karttikeya dapat dengan mudah menangkap kapak tersebut. Ia kemudiian menyerang raksasa tersebut dengan menggunakan tongkatnya. Hal ini membuat Taraka marah dan ia menggunakan berbagai macam senjata untuk membunuh Karttikeya. Akan tetapi,Karttikeya dapat menghindari serangan raksasa tersebut dan ia membunuh raksasa tersebut dan senjatanya. Para raksasa melarikan diri. Karttikeya menusuk Taraka didadanya dan membunuhnya.
            Demikian anugrah Brahma menjadi kenyataan.
Hiranyakasipu
            Diti memiliki seorang anak yang bernama Hiranyakasipu. Raksasa ini melakukan dibawah air selama sebelas ribu tahun. Selama melakukan hal ini, ia tidak makan dan minum sama sekali.
            Meditasi yang dilakukan oleh raksasa ini menyenangkan hati Brahma dan Brahma memberikan anugrah kepada Hiranyakasipu.”Anugrah apa yang engkau inginkan? “ia berkata.
            “Jika engkau berkenan,berikanlah aku anugrah berikut ini,”jawab raksasa tersebut.”Aku tidak dapat  dibunuh oleh para dewa,raksasa,gandharva yaksa,dan ular. Aku tidak dibunuh oleh manusia maupun hantu. Para rsi tidak dapat mengutukku. Aku tidak dapat dibunuh dengan senjata,gunung,atau sebuah pohon. Aku tak akan dapat dibunuh pada waktu siang hari dan malam hari. Aku tak akan dapat dibunuh oleh sesuatu yang kering dan sesuatu yang basah.
            Permintaan yang aneh ini disetujui oleh dewa Brahma.
            Akan tetapi,para rsi,para dewa,gandharva,dan ular menghadap dan mengekuh pada dewa Brahma.”apakah yang telah engkau lakukan?”tanya mereka.”raksasa ini sekarang mulai menyerang jagat raya.”
            “Jangan khawatir,”jawab Brahma “Saat wktunya tiba Visnu sendiri yang akan membunuh Hiranyakasipu.”
            Sambil menunggu harapan waktu tersebut, hiranyakasipu terus menyerang dunia. Ia menyerang pertapaan para rsi dan mengusir para dewa keluar dari surga. Semua kegiatan yajna dilarang.
            Para dewa dan pra rsi kemudian memuja dewa Visnu. Mendengarkan doa mereka, Visnu kemudian merubah wujudnya menjadi mahluk yang sangat aneh yaitu setengah manusia dan setengah singa. Mahluk ini disebut dengan nama Narasimha.
            Narasimha pergi kekediaman Hiranyakasipu. Hiranyakasipu memiliki seorang putra yang bernama  Prahlada dan saat melihat Narasimha , ia berteriak, “Aku merasa bahwa mahluk yang sangat sakti  ini adalah penjelmaan dewa Visnu  dan kita para raksasa akan mati ditangannya.”
            Hiranyakasipu memerintahkan tentaranya untuk menangkap mahluk tersebut. Atau jika mungkin membunuhnya. Akan tetapi,para tentara tersebut tidak bisa melakukan hal tersebut,mereka semua mati terbunuh. Hiranyakasipu kemudian menggunakan berbagai macam senjata untuk membunuh Narasimha. Akan tetapi senjata-senjata tersebut tak dapat membunuh Narasimha. Berbagai senjata yang  mengarah kepadanya dengan mudah dapat dipatahkan. Batu-batuan yang dilemparkan kearahnya tak dapat mencapainya.
            Narasimha menangkap Hiranyakasipu dan menjepitnya dengan dua kaki. Ia kemudian mencabik-cabik dada Hiranyakasipu dengan menggunakan cakarnya. Jadi Hiranyakasipu tidak dibunuh dengan menggunakan senjata,sebuah gunung dan sebatang pohon,atau oleh sesuatu yang kering maupun basah. Visnu dalam wujudnya sebagai Narasimha bukanlah dewa,raksasa,gandharva,yaksa,ular,manusia maupun hantu. Karena kematian Hiranyakasipu terjadi pada senja hari, jadi kejadian tersebut tidak terjadi pada waktu siang hari maupun malam hari. Semua kondisi anugrah Brahma sesuai.
            Seluruh dunia merasa senang atas kematian raksasa tersebut.(Cerita tentang Prahlada dimuat dalam beberapa purana seperti dalam Visnu Purana,akan tetapi cerita tersebut tidak ditemukan dalam Matsya Purana. Menurut cerita dalam beberapa purana tersebut, Prahlada memuja dewa Visnu  dan Hiranyakasipu telah beberapa kali berusaha untuk membunuh Prahlada. Narasimha kemudian muncul untuk melindungi Prahlada. Setelah membunuh Hiranyakasipu, Visnu menobatkan Prahlada sebagai raja para raksasa).
            Matsya purana sekarang menjelaskan tentang kemuliaan beberapa tirtha,termasuk tempat yang sangat suci Varanasi atau kasi. Purana ini juga membuat garis keturunan rsi-rsi terkenal seperti Bhrgu,Angira,Atri,Visvamitra,Kasyapa,Vasistha,Parasara, dan Agastya.    
Savitri
            Ada seorang raja yang bernama Asvati yang memerintah kerajaan Madra. Aspati tidak memiliki putra. Ia kemudian memohon pada dewi Savitri agar ia diberikan seorang putra. Ia melaksanakan ribuan yajna.
            Pada suatu hari dewi Parvati muncul dihadapan raja dan berkata,”engkau tidak akan memiliki seorang putra tapi aku akan menganugrahimu seorang putri.”
            Putri tersebut dinamai Malati. Akan tetapi karena ia dilahirkan berkat anugrah dari dewi Parvati, ia lebih dikenal dengan sebutan Savitri.
            Ketika Savitri tumbuh dewasa,ia menikah dengan Satyavana,putra dari raja Dyumatsena.
            Rsi Narada mengunjungi mereka dan mengatakan bahwa Satyavana akan meninggal dalam waktu satu tahun.
            Mendengar hal itu,Savitri dan Satyavana pergi kehutan untuk mempersiapkan diri menghadapi kematian. Ketika masa hidupnya tinggal empat hari lagi, Savitri melaksanakan upacara ritual yang disebut dengan nama Savitri vrata. Dalam melaksanakan  vrata tersebut,mereka berpuasa selama tiga hari.
            Pada hari keempat dan hari terakhir, Satyavana mengumpulkan makanan,akar-akaran dan buah-buahan dari hutan dan Savitri juga menemani suaminya. Ketika merasa lelah, Savitri duduk dipinggir telaga. Satyavana melanjutkan mengumpulkan makanan dan kayu bakar dekat telaga tersebut. Ia kemudian mengalami sakit kepala yang hebat.
            Savitri,” ia berkata,”aku tidak tahan lagi dengan sakit ini. Ijinkanlah aku merebahkan kepalaku diatas pangkuanmu.”
            Ketika Satyavana merebahkan kepalanya dipangkuan Savitri, yama datang menjemputnya. Kulit yama berwarna hitam dan ia berpakaian serba kuning. Mahkotanya keemasan. Gelang melingkari lengannya dan kalung bergantungan dilehernya.
            Pada setiap badan manusia ada suatu kesatuan yang hanya berukuran sepanjang jari. Inilah bagian badan yang akan diambil oleh yama dan dibawa kesurga. Ketika hal ini dilakukan, jasad kita akan tetap ada dibumi. Yama kemudian mengikat roh Satyavana dengan tali dan siap membawanya ketempat kediamannya.
            Saat yama pergi, Savitri mengikutinya.
“Engkau akan pergi kemana?”tanya yama
“Aku akan mengikuti suamiku,”jawab Savitri.”Tugas utama dari seorang istri adalah melayani suaminya. Karena suamiku telah meninggal,aku harus ikut dengannya.”
“Aku kagum dengan kesetiaanmu,”kata Yama.”mintalah anugrah dan aku akan menganugrahkannya kepadamu. Satu hal yang tak dapat kau pinta adalah agar Satyavana dihidupkan kembali.”
“Ayah mertuaku telah buta,”jawab Savitri. “Ia tidak dapat lagi menjadi seorang raja. Berikanlah anugrah agar penglihatan mertuaku pulih lagi sehingga ia dapat menjadi raja lagi.”
“Aku akan memberikanmu anugrah tersebut,”kata Yama.”sekarang kembalilah. Engkau tidak akan perlu merasa lelah jika engkau mengikutiku.”
“Bagaimana mungkin aku akan merasa lelah jika aku mengikutimu?”tanya Savitri.”Engkau adalah dewa yang utam diantara semua dewa. Mungkinkah aku akan merasa lelah jika mengikutimu?”
“Hal itu sangat menyenangkan hatiku,” kata Yama. “mintalah anugrah yang lain. Akan tetapi jangan meminta Satyavana dapat hidup lagi.”
“Ayahku tidak memiliki putra,”jawab Savitri. “Berikanlah aku anugrah agar ia memiliki seratus orang anak.”
“Aku akan memberikan anugrah tersebut,”kata Yama.”Sekarang kembalilah,pergi dan laksanakan upacara pemakaman terhadap jasad suamimu. Layanilah kedua orang tuamu dan mertuamu dengan baik. Engkau tidak perlu melelahkan dirimu dengan mengikutiku.”
“Aku mengucapkan terima kasih atas nasihatmu,”jawab Savitri.”akan tetapi,aku harus mengatakan bahwa aku tidak lelah. Engkau adalah raja Dharma,dewa kebenaran. Dapatkah orang yang mengikuti orang sepertimu merasa lelah?”
“Kesetiaanmu sangat mengagumkan,” “mintalah anugrah yang lain. Akan tetapi jangan meminta Satyavana untuk dihidupkan lagi.”
“Berikanlah aku anugrah agar Satyavana dan aku dapat memiliki seratus orang anak,”pinta Savitri.
            Yama memberikan anugrah tersebut tanpa memikirkannya terlebih dahulu dan Savitri kemudian menyatakan bahwa bagaimana mungkin Yama menyetujui hal itu jika Satyavana telah mati. Yama tidak memiliki pilihan lain dan ia menghidupkan kembali Satyavana.
            Yama memberkati Savitri dan ia pun pergi. Pada akhirnya, Satyavana dan Savitri memiliki seratus orang anak yang diberi nama Malava. Savitri adalah contoh kesetiaan seorang wanita yang patut ditiru.
            (Cerita tentang Savitri ini diceritakan kembali berdasarkan cerita yang diambil dari Mahabharata.)
            Matsya Purana juga memuat upacara-upacara ritual yang dilaksanakan oleh raja dan melukiskan berbagai jenis pertanda buruk yang merupakan interpretasi terhadap mimpi.

Vali
            Ada raksasa yang bernama Vali yang merupakan garis keturunan Hiranyakasipu. Dengan kekuatannya,ia menyerang para dewa dan mengusir mereka keluar dari surga.
            Ibu dari semua para dewa adalah Aditi dan ia merasa sangat sedih melihat penderitaan anak-anaknya. Ia kemudian memohon dewa Visnu agar dia diberi seorang anak yang sangat sakti,yang dapat mengalahkan para raksasa,terutama Vali. Aditi  kemudian melaksanakan meditasi selma seribu tahun.
            Visnu sanagt senang denagn permohonannya dan beliau muncul dihadapan Aditi. “Anugrah apakah yang engkau inginkan?”ia berkata.
            “Para raksasa telah menyerang anak-anakku,”jawab Aditi. “anugrahilah aku seorang putra yang dapat mengalahkan para raksasa tersebut.”
            “Jangan bersedih,”kata Visnu.”aku sendiri akan lahir sebagai putramu. Aku akan membasmi para raksasa tersebut.”
            Engkau mungkin masih ingat bahwa suami Aditi adalah rsi Kasyapa. Kasyapa dan Aditi memiliki seorang anak. Anak tersebut cebol(vamana)
            Pada suatu hari, Vali melaksanakan yajna dan si cebol juga menghadiri yajna tersebut. Pada saat melakukan yajna,Vali memutuskan bahwa ia tidak akan menolak keinginan siapapun. Sukracarya adalah penasehat para raksasa dan ia juga adalah guru dari para raksasa tersebut. Sukracarya melihat adanya tipu muslihat dan orang cebol itu tidak lain adalah Visnu. Ia berusaha melindungi Vali dan mengingatkan Vali agar tidak memberikan anugrah terhadap orang cebol tersebut.
            Akan tetapi, Vali tidak mendengarkan larangan tersebut.”Visnu adalah raja dari segalanya,”ia berkata.”aku akan sangat beruntung jika ia datang meminta anugrahku dalam yajna ini dalam wujud seorang anak kecil. Bagaimana mungkin aku dapat menolak keinginannya?”
            Vali menyambut orang cebol itu dengan persembahan.”apakah keinginanmu?”ia berkat.”Tugasku adalah memenuhi segala keinginanmu.”
            “Keinginanku tidak banyak,”jawab si cebol.”Aku tidak menginginkan emas,beras,gajah,ataupun kuda. Hal yang paling aku inginkan adalah tanah yang ditutupi oleh tiga tapak kakiku.”
            “Aku akan memberikannya,”kata Vali.
            Setelah berkata demikian,orang cebol tersebut merubah wujudnya menjadi sangat besar. Kepalanya dapat mencapai langit. Dengan satu tapak kakinya, Visnu dapat melewati tiga dunia. Kemudian Vali menganugrahkan ketiga dunia tersebut kepada Visnu dan para raksasa tidak memiliki tempat tinggal.
            Visnu sangat kagum dengan kemurahan hati Vali. Ia kemudian mengatakan bahwa para raksasa dapat tinggal di alam bawah. Dan surga dikembalikan kepada dewa Indra.
            Inilah cerita inkarnasi Visnu sebagai orang kerdil(Vamana).
Inkarnasi sebagai Babi Hutan
            Pada akhir dari kalpa yang terakhir, bumi mengalami kerusakan dan banjir yang sangat berat. Visnu sendiri tidur diatas air dalam wujudnya sebagai Narayana.
            Ketika waktu untuk mencipta mulai, Brahma muncul dalam sebutir telur. Semua dunia dan mahluk hidup yang akan mendiami dunia tersebut juga ada dalam telur tersebut. Akan tetapi sebelum penciptaan tersebut dimulai, bumi harus diciptakan sehingga mahluk hidup memiliki sebuah tempat untuk didiami.
            Saat bumi pertama kali diciptakan, bumi memiliki jajaran gunung – gunung yang banyak dan gunung – gunung ini sangat berat. Pada akhirnya, bumi tak dapat menahan beratnya gunung – gunung tersebut sehingga bumi pada akhirnya tenggelam kedalam air. Ia turun jauh sampai ke alam bawah. Bumi mulai memuja Visnu agar ia diselamatkan.
            Visnu kemudian merubah wujudnya dalam wujud babi hutan raksasa (Varaha). Ia masuk kedalam air dan mengangkat bumi keatas dengan taringnya. Visnu membiarkan bumi beristirahat diatas air dan mengurangi berat gunung tersebut.
            Ini adalah cerita inkarnasi Visnu sebagai babi hutan.
            (cerita ini kurang memuaskan karena pada umumnya cerita ini dikaitkan dengan raksasa Hiranyaksa saudara dari Hiranyakasipu. Ia mencuri bumi dan memenjarakannya di alam bawah. Ia juga mencuri Veda. Visnu kemudian membunuh Hiranyaksa dalam wujudnya sebagai babi hutan serta menyelamatkan bumi dan Veda. Cerita Hiranyaksa dapat ditemukan dalam beberapa purana misalnya dalam Visnu Purana.)
Pengadukan Samudra
            Para raksasa dan para dewa berperang sepanjang waktu. Dalam peperangan tersebut, para dewa dan para raksasa banyak yang mati. Hal ini tidak berpengaruh banyak bagi para raksasa karena gurunya Sukracarya memiliki ilmu mrtasanjivani yang dapat menghidupkan para raksasa yang sudah mati. Akan tetapi, para dewa yang mati akan tetap mati.
Para dewa meminta nasehat dewa Brahma. “menyatulah sementara waktu dengan para raksasa,” kata Brahma. “menyatu dengan mereka dan aduklah samudra. Pengadukan samudera ini akan membuat kalian abadi dan engkau tidak perlu lagi takut kepada para raksasa.”
Para dewa pergi mengunjungi Vali, raja para raksasa untuk mengadakan perjanjian dan Vali menyetujui gencatan senjata tersebut. Persiapan unutk mengaduk samudera pun dilakukan. Gunung Mandara digunkan sebagai tongkat pengaduk dan naga Vasuki setuju digunakan sebagai tali. Masalahnya adalah gunung mandara tidak memiliki dasar dan tanpasa dasar, puncaknya tak dapat bergerak dan pengadukan samudera tersebut tak dapat dilaksanakan.
Visnu kemudian merubah wujudnya menjadi kura-kura yang sangat besar (kurma). Punggung kura-kura tersebut digunakan sebagai dasar gunung mandara. Pengadukan samudera pun dimulai. Para dewa memegang ekor Vasuki dan para raksasa memegang kepala vasuki. Penfgadukan itu berlangsung selama seribu tahun para dewa.
Benda pertama yang muncul akibat pengadukan samudera tersebut adalah bulan, candra. Disamping itu, ada cerita yang tidak diceritakan dalam matsya purana yaitu candra dikutuk agar tenggelam ke dalam samudera. Kemunculannya dalam pengadukan samuderamerupakan kelahirannya kembali. Siva kemudian menggunkaan candra sebagai hiasan diatas kepalanya. Laksmi, dewi kekayaan dan kesuburan muncul kemudian dan menyatu dengan dewa wisnu. Dewa yang muncul selanjutnya dalam pengadukan samudera tersebut adalah sura, dewi anggur